Tuesday, 8 September 2009

Tip Cepat Panen Gaharu





Gaharu mati setelah satu tahun suntikan inokulan. Dia tidak bersalah, tetapi terluka sehingga bau harum segera muncul. Batang gaharu Aquilaria malaccensis minimal 5 tahun, mengebor sebuah spiral. Artinya, setiap tepi. Yang pertama kali melihat lapangan akan terus-menerus dengan melihat kedua lapangan. Sehingga berikutnya. Bidang gergajian yang diberikan jamur. Tahun pasca-injeksi bisa panen. Teknik sebelumnya, antara -- lapangan tidak berhubungan gergaji. Interval antar bidang sekitar 10 cm dan perlu 2-3 tahun untuk menuai hasil. Modifikasi dari jamur menyediakan teknologi yang dikembangkan oleh Drs Yana Sumarna MSI, peneliti Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan dan Konservasi Alam, Bogor.

Dia memberikan cendawan Fusarium spp pada setiap batang gaharu. Tahun lalu, ia mampu memanen 10 kg hasil dari pohon gaharu usia 6 tahun. Cara ini lebih efektif dibandingkan teknik lama karena teknik spiral dapat membantu pohon-pohon masih berdiri kuat meskipun angin. Siapkan alat diperlukan: bor kayu dengan mata bor berdiameter 13 mm untuk menembus batang, gergaji, spidol sebagai penanda tempat pelubangan, alat ukur, kapas, spatula, pinset, alkohol 70%, lilin lunak dan bibit babi jamur.

Proses proses sederhana.
1. Inokulan jamur untuk membantu dalam pembentukan hasil.
Beberapa contoh jamur padat adalah Diplodia sp, Phytium sp, Fusarium sp, Aspergillus sp, sp. Lasiodiplodia, Libertela sp, Trichoderma sp, Scytalidium sp, dan
Thielaviopsis sp. Jamur itu diperbanyak dengan mencampur satu sendok makan
jamur dan 100 gram limbah serbuk gergaji. Simpan satu bulan di botol
tertutup.
2. Buat tanda di lapisan kulit diameter pohon 10 cm dengan spidol untuk menentukan bidang pengeboran. Pengeboran titik terendah, 20 cm dari permukaan
tanah. Menciptakan lebih banyak pengeboran di posisi teratas dengan pergeseran arah
horizontal sejau 10 cm dan 10 cm vertikal. Dengan cara yang sama membuat beberapa
Titik berikutnya hingga setelah dihubungkan garis untuk membentuk sebuah spiral.
3. Gunakan generator untuk menggerakkan bor. Buat lubang sedalam 1 / 3 diameter mengikuti garis spiral bidang pengeboran batang
4. Bersihkan lubang bor dengan kapas yang dibasuh alkohol 70% untuk mencegah
infeksi mikroba lain.
5. Masukkan jamur ke dalam lubang dengan menggunakan spatula. Pengisian dilakukan untuk memenuhi lubang sampai permukaan kulit.
6. Tutup lubang telah diisi dengan cetakan lilin sehingga tidak ada
kontaminan. Untuk mencegah air merembes, permukaan lilin juga ditutup plester
plastik.
7. Cek keberhasilan penyuntikan setelah satu bulan. Buka plester dan lilin. Inokulasi cendawan sukses jika bar hitam. Setelah itu membuat cut di bawah kulit mengelupas. Hal ini membuat mudah untuk membuka dan menutup ketika cek berikutnya.
8. Satu tahun kemudian gaharu dipanen. Untuk meningkatkan keberhasilan, pekebun menambahkan senyawa pemicu stres. Demikian daya tahan gaharu melemah, jamur mudah berkembang biak, dan hasil bahkan lebih cepat terbentuk.


sumber: Trubus Berita
http://pamfinance.com

Sunday, 6 September 2009

BUDIDAYA GAHARU : Alternatif Pemberdayaan Masyarakat Desa Hutan




Sudah gaharu, cendana pula! Sudah tahu, bertanya pula! Peribahasa tersebut sangat sering kita dengar sehari-hari. Akan tetapi tidak banyak dari kita yang tahu apakah gaharu tersebut dan darimana ia dihasilkan.

Gaharu sebenarnya merupakan substansi aromatik (aromatic resin) yang berbentuk gumpalan atau padatan berwarna coklat muda sampai kehitaman yang terbentuk pada lapisan dalam kayu tertentu. Timbulnya gaharu ini bersifat spesifik, dimana tidak semua pohon dapat menghasilkan substansi aromatik ini.

Jenis-jenis pohon yang biasanya menghasilkan gaharu adalah pohon-pohon yang termasuk famili Thymelaeaceae yakni Gonystyloidae (antara lain Gonystylus spp.), Aquilarioideae (Aquilaria spp.), Thymelaeoidae (Enklea spp, serta Wikstroemia spp.), dan Gilgiodaphnoidae. Bahkan ada ahli yang berpendapat bahwa jenis Dalbergia parvifolia (famili Leguminoceae) dan Excoccaria agolocha (Euphorbiaceae) juga dapat menghasilkan gaharu. Akan tetapi jenis yang diketahui memiliki potensi penghasil gaharu tertinggi adalah Aquilaria malaccensis atau dikenal dengan nama daerah Karas, Alim, Garu, Kompe dan lain-lain.

Penyebaran alami marga Aquilaria sangat luas mulai dari India, Pakistan, Myanmar, Thailand, Kamboja, Malaysia, Philipina dan Indonesia. Enam diantaranya ditemukan di Indonesia (A. malaccensis, A. microcarpa, A. hirta, A. beccariana, A. cumingiana dan A. filarial) yang terdapat hampir di seluruh Nusantara, kecuali Jawa, Bali dan Nusa Tenggara. Akan tetapi seiring dengan maraknya illegal logging dan perburuan gaharu, pohon penghasil gaharu saat ini sangat jarang ditemui di hutan bahkan telah termasuk jenis yang hampir punah oleh CITES.

HHBK Andalan Gaharu dikenal karena memiliki aroma yang khas sehingga digunakan untuk berbagai keperluan seperti parfum, pewangi ruangan, hio, obat, dan sebagainya. Popularitas dan tingginya harga gaharu sudah dikenal lama. Saat ini, harga gaharu kualitas super dapat mencapai Rp 5 juta per kilogram, bahkan dapat mencapai US $ 10.000 per kg di tingkat pengguna akhir. Di tingkat pengumpul di Kalimantan harga gaharu dapat mencapai Rp. 600.000,- per kg.

Kontribusi gaharu terhadap perolehan devisa juga menunjukkan grafik yang terus meningkat. Menurut BPS, nilai ekspor gaharu dari Indonesia tahun 1990-1998 adalah sebesar US $ 2 juta, dan pada tahun 2000 meningkat menjadi US $ 2,2 juta. Namun sejak 2000 sampai akhir 2002, ekspor menurun menjadi 30 ton dengan nilai US $ 600.000. Penurunan ini disebabkan oleh semakin sulitnya gaharu ditemukan.

Mempertimbangkan harganya yang sangat istimewa bila dibandingkan hasil hutan lainnya, gaharu dapat dikembangkan sebagai salah satu komoditi hasil hutan bukan kayu (HHBK) andalan alternatif untuk penyumbang devisa sektor kehutanan selain dari hasil hutan kayu.

Budidaya Gaharu : Peningkatan Kelestarian Hutan Nilai jual gaharu yang tinggi ini seharusnya dapat mendorong masyarakat untuk membudidayakannya. Selama ini gaharu yang dipanen umumnya berasal dari pohon gaharu yang tumbuh alami di hutan. Jika dahulu masih terdapat kearifan tradisional dimana untuk menjamin kelestarian pohon induknya, hanya bagian yang mengandung gaharunya saja yang ditoreh tanpa menebang pohonnya, saat ini pemanenan dilakukan dengan langsung menebang pohonnya. Akibatnya semakin sedikit pohon-pohon induk gaharu yang terdapat di alam.
Walaupun tidak seorangpun yang meragukan prospek ekonominya, sejauh ini upaya peremajaan dan budidaya gaharu belum begitu dikenal. Bukan tidak ada penelitian yang menunjukkan besarnya peluang pengembanganya, akan tetapi akibat lemahnya publikasi dan tindak lanjut terhadap hasil penelitian tersebut menyebabkan usaha pengembangan gaharu sangat jauh tertinggal dibandingkan jenis pohon lainnya, misalnya, jati emas atau jati super yang didengung-dengungkan akan memberikan nilai ekonomi yang cukup besar sehingga penanaman jenis ini mewabah di mana-mana, walaupun kemudian penanaman jenis ini tidak direkomendasikan.

Penelitian Litbang Kehutanan dan lembaga riset lainnya menunjukkan bahwa gaharu yang timbul disebabkan oleh terjadinya infeksi yang dialami pohon gaharu tersebut. Para peneliti menduga terdapat tiga hal penyebab proses infeksi, yaitu (1) infeksi jamur seperti Fusarium oxyporus, F. bulbigenium dan F. laseritium., (2) perlukaan dan (3) proses non-phatology. Terjadinya luka pada pohon dapat mendorong munculnya proses penyembuhan yang akan menghasilkan gaharu. Penanaman dapat dilakukan pada lahan terbuka dengan sistem monokultur, tetapi lebih disarankan dibawah tegakan seperti Sengon, Petai, Gamal, dan Mahoni baik dengan sistem tumpang sari maupun campuran. Pohon gaharu umumnya dapat ditanam pada lokasi dengan ketinggian 5 – 700 mdpl dengan curah hujan 6 bulan dan sepanjang tahun lebih disukai. Tanaman gaharu dapat dipanen setelah berumur 9-10 tahun. Setelah pohon berdiameter 10 cm (kira-kira pada umur 5 tahun), proses inokulasi dapat dilakukan dengan cara (1) melukai bagian batang pohon, (2) menyuntikkan mikroorganisme jamur Fusarium, (3) menyuntikkan oli dan gula merah, atau dengan (4) memasukan potongan gaharu ke dalam batang tanaman. Produksi gubal gaharu mulai terbentuk setelah satu bulan penyuntikan dengan tanda-tanda pohon tampak merana, dedaunan menguning dan rontok, kulit batang rapuh, jaringan kayu berwarna coklat tua dan mengeras, dan jika dibakar akan mengeluarkan aroma khas mirip kemenyan. Gaharu dapat dipanen 3 – 4 tahun kemudian.

Jumlah produksi gubal gaharu dapat beragam tergantung kualitas pohon dan tempat tumbuhnya dengan rata-rata 2 kg per pohon. Dengan jarak tanam 3 x 3 m atau 1100 pohon per ha, maka akan dihasilkan sekitar 2 ton gaharu/ha. Jika kita asumsikan bahwa gaharu yang dihasilkan hanya kualitas rendah dengan harga Rp 250 - 300 ribu per kilo maka akan diperoleh pendapatan Rp 550 - 660 juta per ha. Bagaimana jika dihasilkan tersebut gaharu kualitas super dengan harga Rp 600 ribu pada pedagang pengumpul ? Suatu jumlah yang sangat fantastis untuk usaha lebih kurang 10 tahun.
Terdapat berbagai pilihan untuk menggalakkan budidaya gaharu, antara lain melalui (1) program hutan rakyat gaharu, dan (2) program hutan kemasyarakatan. Dalam program hutan rakyat, masyarakat diharapkan secara swadaya melakukan penanaman gaharu pada lahannya sendiri terutama pada lahan kosong (tidak produktif). Agar masyarakat mau menanam gaharu, selain informasi tentang peluang dan teknik pengembangan gaharu, masyarakat juga harus diberikan insentif, seperti pengadaan bibit dan inokulasi mikroorganisme penyebab gaharu. Pengadaan bibit dan inokulasi dapat dilaksanakan oleh pemerintah yang kemudian disalurkan kepada petani secara cuma-cuma atau dengan kredit. Dalam prakteknya pengembangan hutan rakyat gaharu ini dapat dikombinasikan dengan tanaman semusim atau tahunan. Sedangkan penggalakan program hutan kemasyarakatan didasarkan pada paradigma pembangunan kehutanan community based development yang berorientasi pada peningkatan kesejahteraan masyarakat. Dalam sistem hutan kemasyarakatan, masyarakat diperbolehkan menanam gaharu bersama-sama dengan tanaman pertanian dan kehutanan lainnya pada lahan hutan, salah satunya dengan sistem agroforestry.

Berbagai praktek agroforestry menunjukkan bahwa sistem ini memberikan dampak ganda berupa peningkatan kesejahteraan masyarakat di satu sisi dan kelestarian sumberdaya hutan dan lahan disisi lain. Selain memperoleh kesejahteraan dari tanaman gaharu dan tanaman kehutanan, masyarakat juga dapat memanfaatkan lahan diantara tanaman tersebut untuk tanaman semusim. Teknik ini memberikan pengaruh positif terhadap produktivitas tanah berupa meningkatnya ketersediaan unsur hara dan bahan organik serta menurunnya kemasaman tanah. Teknik ini juga dapat menekan laju erosi tanah sehingga juga cocok untuk menanggulangi lahan kritis. Adanya peningkatan kesejahteraan dari budidaya gaharu ini akan mengurangi tekanan masyarakat terhadap sumber hutan dalam bentuk illegal logging dan perambahan lahan bahkan masyarakat secara sadar akan mempertahankan setiap jengkal hutan dari kerusakan, apapun penyebabnya. Tentu saja agar program penanaman gaharu ini berhasil perlu didukung dengan kelembagaan dan peraturan yang jelas, serta dukungan semua pihak. Jadi mengapa kita tidak tanam gaharu? ***


Aswandi Anas

(penulis adalah Peneliti pada BPK Aek Nauli)

BUDIDAYA GAHARU SISTEM BIO INDUKSI, HASIL KERJA KERAS PENELITI BALITBANG KEHUTANAN DEPHUT




12 Apr 2008 (07:48)

Surabaya (Baungcamp.com) - GAHARU merupakan gumpalan berbentuk padat berwarna coklat kehitaman sampai hitam, berbau harum jika dibakar. GAHARU terdapat pada bagian kayu atau akar dari jenis pohon penghasil GAHARU yang telah mengalami proses perubahan kimia dan fisika akibat terinfeksi oleh sejenis jamur.

Beberapa jenis pohon penghasil GAHARU antara lain adalah Aquilaria spp., Aetoxylon sympetallum, Gyrinops, dan Gonystylus. Pemanfaatan GAHARU di Indonesia oleh Masyarakat Pedalaman Sumatera dan Kalimantan, telah berlangsung puluhan bahkan ratusan tahun yang lalu. Secara tradisional GAHARU dimanfaatkan antara lain dalam bentuk dupa untuk upacara ritual dan keagamaan, pengharum tubuh dan ruangan, bahan kosmetik dan obat-obatan sederhana.

Saat ini pemanfaatan GAHARU telah berkembang sangat luas antara lain untuk parfum, aroma terapi, sabun, body lotion, bahan obat-obatan yang memiliki khasiat sebagai anti asmatik, anti mikrobia, dan stimulan kerja syaraf dan pencernaan. Akibat dari pola pemanenan yang berlebihan dan perdagangan GAHARU yang masih mengandalkan pada alam, maka jenis-jenis tertentu (seperti Aquilaria dan Gyrinops) saat ini sudah tergolong langka, dan masuk dalam lampiran Convention on International Trade on Endangered Species of Flora and Fauna (Appendix II CITES).

Guna menghindari pohon penghasil GAHARU tidak punah dan pemanfaatannya dapat lestari maka perlu upaya konservasi, baik in-situ (di dalam habitat) maupun ek-situ (di luar habitat) dan budidaya, serta rekayasa untuk mempercepat produksi GAHARU dengan teknologi induksi (inokulasi). Oleh karena itu, pengembangan budidaya GAHARU ke depan, selain untuk konservasi, juga sekaligus dapat meningkatkan pendapatan masyarakat, pemerintah daerah, dan devisa bagi negara. BUDIDAYA GAHARU Teknik Budidaya Pada saat ini, teknik budidaya tanaman penghasil gaharu telah dikuasai dengan baik, dari mulai kegiatan perbenihan, persemaian, penanaman dan pemeliharaannya.

Adapun beberapa faktor yang harus diperhatikan dalam kegiatan budidaya pohon penghasil gaharu antara lain adalah : Persyaratan Tumbuh. Tempat tumbuh yang cocok untuk tanaman penghasil gaharu adalah dataran rendah, lereng-lereng bukit, sampai ketinggian 750 meter diatas permukaan laut. Jenis Aquilaria tumbuh sangat baik pada tanah-tanah liat (misalnya podsolik merah kuning), tanah lempung berpasir dengan drainase sedang sampai baik.

Tipe iklim A-B dengan kelembaban sekitar 80%. Suhu berkisar antara 22-28 drajat celcius dengan curah hujan berkisar antara 2000 s/d 4000 mm/tahun. Lahan tempat tumbuh yang perlu dihindari adalah (1) lahan tergenang secara permanen, (2) tanah rawa, (3) lahan dangkal (kedalaman kura dari 50 cm), (4) pasir kuarsa, dan (5) lahan yang ber-pH kurang dari 4,0. Pembibitan.

Bibit tanaman penghasil gaharu dapat dikembangkan melalui generatif dan vegetatif. Melalui generatif dilakukan dengan cara memanfaatkan potensi benih yang sudah masak dengan mengunduh biji atau benih yang jatuh dari pohon induk atau anakan (cabutan). Benih tanaman penghasil gaharu termasuk biji yang rekalsitran, yaitu biji yang cepat menurun kadar airnya sehingga mempengaruhi daya kecambahnya. Oleh karena itu, apabila benih sudah didapat, disarankan agar segera dilakukan penyemaian tanpa harus ditunda-tunda. Persemaian bibit penghasil gaharu dapat juga dibuat skala massal melalui stek pucuk, stek batang, dan kultur jaringan. Setiap teknik perbanyakan akan mempunyai konsekuensi biaya produksi bibit. Untuk perbanyakan stek pucuk, pengambilan bahan stek dapat berasal dari kebun pangkas atau bibit tanaman. Bahan stek yang baik adalah tunas yang tegak (autotrof), yang secara fisiologis muda, batangnya berkayu dan mempunyai jumlah ruas (nodum) lebih dari dua.

Dengan penambahan hormon tertentu (yang berfungsi untuk meningkatkan kemampuan stek berakar dan mempercepat proses pertumbuhan akar) maka bahan stek telah siap ditanam pada bak pengakaran. Agar stek dapat berkembang menjadi bibit, perlu pemeliharaan yang intensif melalui penyediaan media yang sesuai, kelembaban yang tinggi, suhu udara dan cahaya yang cukup. Pemeliharaan dapat berlangsung sampai bibit siap tanam, yaitu 6 s/d 8 bulan. Pada tahap awal di persemaian, semua jenis bibit penghasil gaharu memerlukan naungan yang cukup (seperti halnya kelompok jenis meranti). Untuk mempercepat pertumbuhannya, bibit penghasil gaharu dapat diinokulasi oleh Cendawan Mikoriza Arbuskula (CMA) sejak dini di persemaian. Penanaman. Penanaman bibit penghasil gaharu dapat dilakukan secara tumpangsari (agroforestry) dengan tanaman jagung, singkong, pisang dan lainnya. Cara lain adalah Bibit penghasil gaharu ditanam di sela-sela tanaman pokok (karet, akasia, sengon, kelapa sawit dan lainnya) yang telah tumbuh terlebih dahulu. Pada tahap awal pertumbuhan di lapangan, bibit penghasil gaharu memerlukan naungan. Apabila tanaman penghasil gaharu akan ditanam pada hamparan yang luas dan masih kosong, maka jarak tanam dapat dibuat 3 m x 5 m, 4 m x 4 m, atau 5 m x 5 m.

Waktu penanaman diusahakan pada musim hujan agar bibit mendapatkan air yang cukup pada awal pertumbuhannya. Media tanam dapat berupa tanah dan kompos. Pada setiap lubang tanam dianjurkan untuk diberikan pupuk kompos minimum 1 kg setiap lubang. Pada tahap ini perlu perhatian mengenai pencegahan gangguan hama dan penyakit terutama pada akar. Pemeliharaan. Tanaman penghasil gaharu pada umur 1-3 tahun perlu dipelihara secara intensif, terutama mengurangi ganguan gulma. Karena tanaman penghasil gaharu telah ber-mikroriza, maka penggunaan pupuk kimia dapat diminimalisir. Setelah tanaman berumur 4-5 tahun atau berdiameter 10-15 cm, barulah tanaman penghasil gaharu siap untuk diinduksi secara buatan dengan menggunakan jamur pembentuk gaharu, dan pada saat ini, tanaman penghasil gaharu tidak memerlukan pemupukan lagi. Jamur Pembentuk Gaharu. Sejumlah isolat jamur hasil eksplorasi dari berbagai daerah di Indonesia telah diidentifikasi berdasarkan ciri morfologis untuk mengetahui keanekaragaman jenisnya. Hasil identifikasi menunjukkan bahwa sebagian besar isolat yang diperoleh merupakan genus Fusarium dan isolat dari genus Cylindrocarpon. Saat ini terdapat sekitar 23 isolat jamur jenis Fusarium yang telah diisolasi dari 17 provinsi di Indonesia dan diujicobakan pada berbagai jenis tanaman penghasil gaharu di Pulau Bangka, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, Jawa Barat dan Banten. Dari 23 isolat tersebut, ada 4 isolat yang sudah teruji dapat membentuk infeksi gaharu dengan cepat.

Uji coba lebih lanjut keempat jamur tersebut telah dilakukan di beberapa tempat antara lain adalah Kalimantan Selatan, Kalimantan Barat, dan Jawa Barat (Sukabumi dan Darmaga) dan Banten (Carita). Dalam waktu 1 bulan saja, tanaman penghasil gaharu yang telah diinokulasi dengan jamur pembentuk diatas, telah menunjukkan tanda-tanda keberhasilan. Rekayasa Produksi.

Tahapan rekayasa produksi gaharu secara buatan melalui beberapa proses sebagai berikut :

1.Isolasi jamur pembentuk.Isolat jamur pembentuk diambil dari jenis pohon penghasil gaharu sesuai jenis dan ekologi sebaran tumbuh jenis pohon yang dibudidayakan.

2.Identifikasi dan skrining.Isolat jamur pembentuk diidentifikasi berdasarkan taksonomi dan morfologinya. Proses skrining dilakukan dengan menggunakan postulat koch untuk memastikan jamur yang memberikan respons pembentukan gaharu, memang berasal dari jamur yang diinokulasi.

3.Teknis perbanyakan inokulum.Biakan murni jamur pembentuk gaharu dapat diperbanyak pada media cair dan media padat. Diperlukan ketrampilan khusus dalam memperbanyak jamur agar proses kemurnian dan peluang masing-masing jenis jamur pembentuk gaharu akan memberikan respon yang berbeda apabila disuntik pada jenis pohon penghasil gaharu yang berbeda.

4.Teknik induksi.Teknik induksi jamur pembentuk gaharu dilakukan pada batang pohon penghasil gaharu. Reaksi pembentukkan gaharu akan dipengaruhi oleh daya tahan inang terhadap induksi jamur dan kondisi lingkungan. Respon inang ditandai oleh perubahan warna coklat setelah beberapa bulan disuntik. Semakin banyak jumlah lubang dan inokulum dibuat, maka semakin cepat pembentukkan gaharu terjadi. Proses pembusukan batang oleh jamur lain dapat terjadi apabila teknik penyuntikan tidak dilakukan sesuai prosedur.

5.Pemanenan.Pemanenan gaharu dapat dilakukan minimum 1 tahun setelah proses induksi jamur pembentuk gaharu. Apabila ingin mendapatkan produksi gaharu yang baik dari segi kualitas maupun kuantitas, maka proses pemanenan dapat dilakukan 2-3 tahun setelah proses induksi jamur.

Untuk sementara produk gaharu buatan yang dipanen setelah 1 tahun tersebut, berada pada kelas kemedangan dengan harga jual US $ 100 per kg. Kerjasama Kemitraan Kerjasama pengembangan gaharu skala bisnis terbuka untuk masyarakat umum, dimulai dari kegiatan budidaya tanaman penghasil gaharu, rekayasa produksi gaharu, pemanenan dan pemasarannya. Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan dan Konservasi Alam memliki fasilitas laboratorium, persemaian dan lahan uji coba riset gaharu di beberapa lokasi di Indonesia. Kegiatan riset didukung oleh peneliti-peneliti yang berpengalaman khusus menangani komoditi gaharu, yaitu (1) Dr. Erdy Santoso, MS, (2) Dr. Maman Turjaman, (3) Dr. Irnayul R. Sitepu, (4) Ir. Ragil SB Irianto, MSc, (5) Luciasih Agustini, Ssi, dan (6) Drs. Yana Sumarna, Msi. Informasi disadur dari Leaflet Balitbang Kehutanan Dephut. (Sumarto/Kababes KSDA Jatim)

Sumber: BAUNG CAMP
Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam
Jawa Timur

Wednesday, 2 September 2009

BEBERAPA JENIS TUMBUHAN PENGHASIL GAHARU DAN DAERAH PENYEBARANNYA DI INDONESIA



Daerah penyebaran gaharu dan nama tumbuhan

Sumatera
Aquilaria malaccensis
Aquilaria beccariana
Aquilaria hirta
Aquilaria microcarpa
Aquilaria moszkowskii

Aquilaria agallocha
Gonyitylus bancanus
Gonystylus macrophyllus
Dalbergia parviflora *
Enkleia malaccensis
Linostoma` scandens
Wikstroemia tenuiramis

Jawa
Aquilaria agallocha
Excoecaria agallocha *
Wikstroemia androsaemifolia
Wikstroemia candolleana

Kalimantan
Aquilaria malaccensis
Aquilaria beccariana
Aquilaria microcarpa
Aquilaria agallocha
Aextoxylon sympetalum
Arastemon urophyllus
Dalbergia parviflora *
Gonystylus macrophyllus
Enkleia malaccensis
Excoecaria agallocha *
Wikstroemia androsaemifolia
Wikstroemia tenuiramis
Wikstroemia polyantha

Sulawesi
Aquilaria cumingiana
Gyrinops decipiens
Gyrinops versteegii
Dalbergia parviflora *
Wikstroemia androsaemifolia

Nusa tenggara
Aquilaria microcarpa
Aquilaria filaria
Gyrinops versteegii
Gyrinops cumingiana
Enkleia malaccensis
Excoecaria agallocha *
Timonius sericeus
Wikstroemia androsaemifolia

Maluku
Aquilaria filaria
Aquilaria secundana
Gyrinops versteegii
Dalbergia parviflora *
Wikstroemia androsaemifolia

Papua
Aquilaria filaria
Aquilaria tomentosa
Gyrinops audate
Gyrinops ledemanii
Gyrinops podocarpus
Gyrinops salicifolia
Gyrinops versteegii
Aextoxylon sympetalum
Wikstroemia androsaemifolia
Wikstroemia polyantha

CATATAN:
*: Sebagian berpendapat bukan penghasil gaharu
Tebal: Termasuk dalam CITES.
Tipis: NON CITES.
Sumber: Sidiyasa dan Suharti (1987): Yana Sumarna (1998) (2002) (data diolah)
Sumber: Harry wiriadinata (LIPI), Ani Mardiastuti & Afifi (IPB)

Ulang tahun ABG yang pertama





Saudaraku...
Tak terasa usia Asahan Budidaya Gaharu ( Asahan Agarwood Cultivated ), sudah 1 tahun. Genap nya pada tanggal 20 Agustus 2008, ABG ini berdiri. Yang awal nya masih berbentuk Asahan Budidaya Gaharu - Club's.

Kini ABG ini direncanakan akan mengubah diri nya menjadi suatu Lembaga Swadaya Masyarakat, khusus Pertanian, Perkebunan, dan Kehutanan. Semoga rencana ini akan tercapai untuk kepentingan masyarakat luas. Memang nama nya masih terlalu lokal, tapi kita ingin berbuat untuk Indonesia, juga untuk dunia kita bersama.

Dalam rangka memperingati hari ulang tahun nya yang pertama, kami akan menanam pohon Gaharu di halaman rumah ibadah di kota Kisaran, yang admin sudah tentukan. Nanti berita nya segera kami terbitkan. Semoga rekan semua mendukung keberadaan ABG yang masih serba kekurangan ini.

Bila ada kritik dan saran, sungguh itu yang kami harapkan. Karena keberadaan ABG juga masih sangat belia, yang butuh proses pembelajaran terus menerus.

Terimakasih.

Monday, 24 August 2009

Berpuasalah menebang pohon, lakukan penanaman pohon sejak dini, agar anak cucu tidak dahaga.










Dalam bulan Ramadhan ini, ABG menyambut dengan action yang semampu nya. Melakukan gerakan menanam pohon di halaman rumah ibadah, di beberapa titik kota. Guna menciptakan titik awal penghijauan di kota Kisaran. Sebagaimana kita ketahui, Asahan adalah salah satu daerah penghasil pohon Gaharu, namun itu dulu. Sekarang sudah sangat langka kita temui pohon gaharu ini.

Maka ABG melakukan tindakan aksi damai, dengan tidak melangkahi program pemerintah. Hanya mengingatkan kepada masyarakat, juga kepada diri pribadi. Sudah saat nya kita melaksanakan gerakan menanam pohon. Untuk penghijauan kita semua.
Dalam gerakan ini, ABG melibatkan BKM (Badan Kemakmuran Mesjid), untuk menanam bersama di halaman mesjid. Tepatnya pada tanggal 23 Agustus 2009, bertepatan tanggal 2 Ramadhan, ABG mencoba menanam pohon sejumlah 10 pohon / mesjid. Sedang mesjid yang ditanamai dengan pohon Gaharu ada 3 mesjid saja. Untuk mengawali keberadaan gaharu di Asahan. Mengenalkan, juga mensosialisasikan kepada para jama'ah Mesjid, juga para pemuka agama. Untuk dapat menyampaikan kepada seluruh masyarakat yang membutuhkan informasi ini. Kami ingin sekali mengenalkan ke seluruh warga Asahan, namun tenaga dan daya kami terbatas. Dengan biaya misal nya. Tapi apa yang kami perbuat, semoga dapat di mengerti masyarakat yang sadar akan penghijauan di daerah nya masing masing.

Tuesday, 4 August 2009

Gaharu Tumbuh Liar Di Tapanuli

Salam kemakmuran.. .

Halo rekan sekalian, bolehkan saya disini sedikit banyak mulut. Eeeeh, maksudnya pengen cerita tentang pengalaman hari Jum'at lalu tentang gaharu. Tanggal 13 maret 2009, tepatnya hari Jum'at, saya diundang salah satu rekan pakar gaharu di Bogor, asli Sumatera utara ke pertemuan akbar petani di Tarutung.

Bapak Ir, Joner Pangihutan Situmorang M.Si dari Biotrop Bogor. Beliau sebagai narasumber pada acara itu, sedangkan saya adalah tamu biasa aja. Tapi karena saya undangan khusus pada acara itu, saya berksempatan duduk pada kursi paling depan, sehingga berpotensi berkenalan dengan beberapa pejabat setempat.
Ternyata acara itu juga di muati nuansa politik, untuk mendukung salah satu partai di negeri kita. Saya sedikit terkejut, karena pada undangan tersebut tidak ada berita politik segala. Tapi baiklah,ada atau tidak muatan politik tidak kita bahas. Namun, yang minta didukung namanya pada adalah juga mendukung pertanian di daerah itu.
Acara dimulai pada jam 11 wib, diadakan di gedung Serba guna Tarutung. Undangan sekitar 1500 orang, namun yang hadir ada sekitar 1700 orang. Sungguh luar biasa pikir saya, karena yang hadir pada saat itu dimulai dari petani, kelompok tani, KTNA (Kontak Tani Nelayan Andalan), Penyuluh Pertanian, Pejabat Pertanian, Seluruh jajaran Pemkab Tapanuli utara, juga tak ketinggalan Bapak TORANG LUMBAN TOBING, Bupati Tapanuli utara terpilih.

Acara berlangsung hikmat, seru dan gembira.
Satu demi satu acara di langsungkan, dimulai dari Nara sumber Bapak Ojak Siagian, mantan anggota MPR RI,yang juga pernah menjabat sebagai pengurus KTNA Nasional.
Beliau berpendapat, petani Sumatera utara tidak ketinggalan teknologi. Karena,
beberapa petani nasional masih banyak yang mempunyai nama di pertanian nasional.
Acara ke dua, Nara sumber nya bapak Ir, Joner Pangihutan Situmorang, M.Si dari
BIOTROP Training and Information Centre, Bogor.

Pada saat itu, acara berlangsung sangat hidmat seperti sedang dalam merenung masal.
Mengapa ??? Beliau menerangkan betapa pohon Gaharu yang mempunyai potensi dan nilai jual juga manfaat serta harganya yang sangat menggiurkan tersebut, ternyata sangat banyak tumbuh liar di Tapanuli utara.

Para petani terkejut, dan mengatakan: "Ai songondia do hau na dohot aha do goarna molo adong dison?". artinya,: Seperti apa sich pohonnya, dan apa nama bahasa daerah sini kalo emang benar itu ada disini???
Sungguh ironis, petani belum mengenal tumbuhan yang bernama Gaharu tersebut.
Padahal, bila petani mau investasi 10 pohon saja untuk di tanam dipekarangan rumah, dan itu dilaksanakan setiap yang namanya petani, bisa kita bayangkan, negeri ini aman, minimal tidak ada maling atau Koruptor. Karena dapat kita hitung kasar, setiap pohon akan menghasilkan getah gaharu sebanyak 3 - 5 kg saja, dengan harga rata rata Rp 10.000.000.00 / kg. Maka petani akan memanen gaharunya 7 - 10 tahun mendatang, 10 pohon dikali kan 1 kg saja dengan harga tsb diatas, maka: Rp 100.000.000. 00 / Kepala Keluarga. Bila petani / masyarakat masing masing sudah memiliki uang sebanyak itu dengan rata-rata. Secara sosial, negeri ini akan aman sedemikian rupa.
Memang benar, di Kabupaten Tapanuli utara itu sangat banyak pohon gaharu tersebut, ratusan atau bahkan ribuan tumbuh liar di sela sela pohon karet, kemenyan yang berada diatas tanah / hutan masyarakat. Artinya bukan berada di hutan lindung. Posisi paling banyak pohon gaharu itu berada di Kecamatan Adian koting dan Kecamatan Pahae Julu.

Acara selesai pada pukul 15 wib.
Masyarakat sangat antusias, sebagian besar mendatangi bapak Situmorang untuk menanyakan lebih lanjut dan tentang no hp.Juga saya, yang sedikit pun tidak bersuara atau berbicara kedepan mimbar, tapi mereka tau kalau saya adalah tamu dari luar deerah, sebagian kecil mereka juga mengerubungi atau mengadakan tanya jawab dengan saya. Mungkin tadinya saya dianggap sebagai Peneliti gaharu dari Bogor juga.

Selesai acara kami terus kerumah dinas bupati, atas undangan beliau. Ternyata bapak bupati juga merasa penasaran juga terhadap gaharu. Mengapa saya sebagai kepala daerah tidak mengetahui keberadaan gaharu di kampong saya, pikirnya.
Maka kami: Bapak Ojak Siagian, Bapak Joner Situmorang, Bapak Bloner Nainggolan (Kepala Badan Penyuluh Pertanian, Perikanan dan Kehutanan), Staff bupati dan Bapak Bupati berangkat dengan mengendarai mobil dinas bupati menuju lokasi pohon gaharu terdekat dan terjangkau untuk dilihat. Sekitar 30 km dari Tarutung menuju. Kecamatan Adaian koting. Yang sangat aneh saya rasa adalah bapak Torang Lumban Tobing adalah seorang bupati yang bersahaja, dekat dengan rakyatnya, terbukti dari kunjungan kami ke Adaian koting tersebut, beliau lah yang memandu atau menyupir mobil dinas bupatinya bersama sama kami. Sungguh luar biasa. Kami menanyakan: "Bah !!! Pak bupati do na mamboan mobil?" Lho, pak bupati yang menyupir mobil?
Apa jawab beliau: "Akh, bupati masa kini do!" Akh, biasa. Bupati jaman sekarang.

Nah, dari pelajaran ini, banyak yang dapat kita suri tauladani. Sebagai pemimpin daerah, bupati juga sangat mendukung tentang pertanian. Juga gaharu yang hidup di Tapanuli utara itu juga hidup di Asahan. Seperti kita ketahui, di Asahan juga ada di 2 kecamatan.Kecamatan Air batu dan Bandar pulau. Mengapa tidak kita lestarikan seperti halnya para pembudidaya gaharu dari daerah lain. Inikan suatu modal untuk masa depan kita. Untuk menyelamatkan gaharu di Asahan, mari kita lestarikan.
Mari kita hijaukan Asahan dengan Gaharu, yang memang sudah sangat langka.

Gaharu kita sudah punah, karena selama ini banyak para pemburu gaharu yang menebangnya dengan liar, dan tidak terpikirkan oleh mereka untuk mengganti tanam gaharu tersebut.Ini menjadi tanggung jawab kita untuk mengganti tanam, seperti Reboisasi. Bedanya, reboisasi kita tidak perlu tanam ke hutan, kita juga dapat menanamnya kembali di pekarangan rumah kita, atau di sekitar halaman balai desa juga halaman rumah ibadah.
Kalau bisa, mari kita sukseskan program bapak SBY, yang menyatakan di tahun 2009 ini kita harus menanam 1 pohon untuk 1 jiwa penduduk negeri ini, maka untuk ambil surplus nya mari kita tanam 10 pohon untuk setiap jiwa. Seperti yang sudah dilaksanakan Pemerintah Daerah Garut Jawa barat, setiap pasangan Pengantin baru dan pasangan yang akan mengurus perceraian rumahtangga di kantor urusan agama, di wajibkan menanam pohon agar daera Garut tersebut akan hijau berpenghijauan.

Dari cerita diatas, saya mengharapkan dukungan para rekan rekan pembaca untuk mendukung program penghijauan ini. Baik dari Asahan maupun masyarakat Asahan dimanapun berada.
Agar terwujud cita cita Gaharu di Asahan yang kita cintai ini. trampil para putera puteri nya yang akan menyongsong masa depan.

Terimakasih.

Asahan Budidaya Gaharu

Gaharu (Agarwood)

Gaharu adalah tanaman langka yang dilindungi
Sehingga Indonesia sudah kena peringatan CITES, apendix II.
Bagaimana upaya kita untuk menyelamatkan gaharu dari bumi Indonesia ini?

Yang dulu tumbuh subur, namun sekarang sudah sangat susah untuk menjumpai nya.
Dari jaman dahulu juga Indonesia sudah mengenal system export import, hanya saja cara nya yang masih sangat sederhana. Mungkin nenek moyang kita dengan system barter. Misal, dengan bangsa Tar tar, gaharu barter dengan tembikar atau guci. Dengan bangsa Timur tengah, barter dengan Minyak wangi atau sejenis nya.
Padahal, gaharu ini juga adalah sumber bibit minyak wangi. Melihat potensi yang ada, mengapa bangsa ini tidak melirik peluang yang ada. Dengan ber niaga gaharu, dampak positip nya akan memakmurkan masyarakat. Juga mewarisi perniagaan nenek moyang, yang jaman itu adalah jaman kegemilangan Indonesia kuno. Mengapa tidak meneruskan profesi nenek moyang yang gemah ripah loh jinawi, boleh disebut: Baldatun Toyyibatun Warobbun Ghofur.

Mari meminjam catatan sejarah sejenak.
Pada tahun 695 Masehi, musafir China bernama I tsing mencatat perjalanan nya. Di negeri Sri wijaya telah ada masyarakat berniaga kayu gaharu ini untuk di jual kepada bangsa Mongolia dengan angkutan kapal perang melayu.
Juga dengan para saudagar dari Gujarat dan Parsi dari Timur tengah.
I tsing ada di kota Palembang papa waktu itu ketika hendak belajar agama Budhis, karena Palembang pada waktu itu pusat pendidikan agama Budhis.

Di Asahan sendiri, nenek moyang orang Asahan juga sudah meniagakan gaharu ini sejak tahun 1451 Masehi. Orang Batak dari Porsea, dari rumpun marga Marpaung dan Hutagalung membawa dari Porsea turun gunung melalui sungai Asahan menuju dermaga Tanjung Balai. Sampai disana dijual ke para pedagang Gujarat dan Parsi juga orang orang Mongol yang ada di selat Malaka, ketika berlayar dari negeri nya. Tersebutlah Datuk Sailan, seorang saudagar gaharu, yang berasal dari rumpun marga Marpaung tadi, menjadi saudagar di Tanjung balai ketika itu.

Berarti para nenek moyang sudah sangat mengenal kayu gaharu ini dengan sebutan aneka bahasa. Orang batak bilang: Hau Alim. Minang: Kayu Kareh, Melayu: Depu atau Karas. Nah, dari aneka bahasa di nusantara ini, membuktikan gaharu sudah dikenal masyarakat nusantara. Mengapa kita para cucu moyang orang nusantara sama sekali 99% tidak mengenal lagi apa itu gaharu. Padahal ini sangat punya nilai historis, ekonomis, upacara adat / agama, dan budaya.

Ayo, dari cerita diatas, kita bersama sama untuk membangun nusantara / Indonesia ini dengan menghijaukan gaharu di bumi pertiwi ini.
Bersama menciptakan lingkungan yang asri, juga masyarakat yang sejahtera.

Amin.